“Percayalah…Media Komunitas adalah Media Kita”

Media Komunitas Bergerak Melawan Hoax

Baris pertama dari judul di atas diinspirasi dari artikel Trust Me, I Am Your News Channel: Media Credibility Across News Platforms in the United States and South Korea karya Choi, Axelrod dan Kim.

Walau hoax bukan persoalan baru, saat ini hoax dirasakan sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Sebabnya, hoax cenderung digunakan untuk mempertajam konflik politik sehingga masyarakat terbelah dua kelompok menjadi pro dan kontra. Kita bisa merasakan tumbuhnya kebencian satu-sama lain lewat komentar-komentar di media sosial. Pertemanan bertahun-tahun diputus dengan sekejap pilihan unfriend. Energi dihabiskan untuk debat yang tidak berkesudahan yang sering tidak bertumpu pada nalar tetapi lebih pada emosi. Situasi ini tentu saja tidak bisa dibiarkan karena hoax akan membuat bangsa kita melangkah mundur.

Secara umum, hoax diartikan sebagai informasi palsu yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk mempengaruhi keyakinan khalayak. Boleh dikata ini adalah bentuk tipuan atau manipulasi informasi yang canggih sehingga hoax dianggap sebagai informasi benar. Hoax ini bukan hasil dari interpretasi berbeda pada suatu peristiwa namun lebih merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh pembuatnya untuk membelokkan kebenaran.

Mengingat yang umum diketahui masyarakat adalah hoax yang menempel pada berita, maka hoax juga dikenal sebagai fake news. Dilihat dari jenis isu, sebenarnya hoax tidak hanya soal politik. Ada juga hoax yang mengenai lowongan pekerjaan, kesehatan, ilmiah, kebencanaan, dan sebagainya.

Hoax yang muncul dewasa ini biasanya berbentuk pemelintiran informasi dari peristiwa nyata sehingga lahir informasi yang sangat berbeda dengan fakta sesungguhnya. Tindakan pemelintiran informasi menunjukkan niat buruk dari pembuat hoax. Ia ingin mengambil keuntungan dari pengaruh penipuan ini.

Mengapa hoax bisa berjaya?
Pertama, Hoax memiliki konsumen, yaitu mereka yang merasa hoax mendukung keyakinannya. Pada dasarnya seseorang tidak suka jika ada informasi yang bertentangan dengan apa yang diyakininya. Inilah yang dikatakan Festinger (dikutip West & Turner, 2009) di dalam teori disonansi kognitif bahwa setiap orang berusaha memperoleh kesesuaian antara tindakan, kepercayaan, keyakinannya dengan pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu setiap individu akan  melakukan terpaan selektif, yaitu fokus untuk mencari informasi yang cocok dengan keyakinannya agar secara psikologis perasaannya merasa nyaman. Nampaknya, pertimbangan utama mereka adalah bukan soal apakah informasi tersebut sungguh-sungguh benar, namun lebih pada keinginan untuk memuaskan ego bahwa dirinya benar.   Bahkan untuk memperkuat keyakinannya, ia akan mencari pendukung yaitu melalui penyebaran informasi itu, terutama melalui jaringan di media sosial. Maka tidak mengherankan jika penyebaran hoax berlipat ganda dengan cepat dan pengikutnya juga berlipat ganda. Mereka ini saling berinteraksi untuk mengkristalkan keyakinannya yang berujung pada ungkapan-ungkapan kebencian terhadap pihak lain yang berseberangan dengannya.

Kedua, hoax bisa berjaya karena berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama. Apalagi di persoalan politik, media arus utama diduga berpihak pada salah satu kelompok politik. Dugaan ini mengental akibat pemilik media tersebut banyak yang terlibat dengan partai politik. Ketika masyarakat tidak percaya pada media arus utama, maka mereka akan lari pada sumber-sumber informasi lain. Sayangnya, sebagian beralih pada sumber informasi penyebar hoax. Pengaruh hoax dapat terjadi oleh karena rendahnya literasi media di masyarakat, yang dapat dilihat pada: minimnya usaha untuk melakukan verifikasi atas informasi yang diterima, motivasi untuk menjadi yang pertama dalam penyebaran informasi, serta tidak ada sumber informasi (seperti media arus utama) yang dianggap kredibel untuk mendapat verifikasi.

Hal ini memprihatinkan  karena masyarakat umum menjadi korban. Mereka yang awalnya berada di luar pusaran konflik, sering dijadikan target pengaruh hoax. Minimnya informasi yang dimiliki membuat mereka tertipu hoax. Situasi ini yang melahirkan kekuatiran banyak pihak yang peduli terhadap informasi yang benar karena penyebaran hoax seperti virus yang jika dibiarkan makin lama makin kuat daya rusaknya terhadap masyarakat.

Lawan Hoax  Melalui Literasi Media
Mengingat penyebaran dan daya rusak yang mengkhawatirkan bagi kita, maka harus ada gerakan bersama di masyarakat untuk melawan hoax melalui literasi media. Salah satu gerakan yang strategis adalah dengan gerakan oleh teman-teman media komunitas. Mengapa? Posisi media komunitas yang berada di tengah masyarakat akan memudahkan jalur informasi yang benar sampai ke masyarakat. Tidak hanya itu, informasi di media komunitas     dikelola sendiri oleh masyarakat sehingga mereka lebih paham informasi apa yang relevan buat mereka. Sebagai salah satu bagian dari sistem media di Indonesia, media komunitas perlu aktif melakukan gerakan melawan hoax.

Literasi media sendiri bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, di mana mereka diberdayakan untuk memiliki kompetensi memanfaatkan informasi. Bahkan mereka bisa terlibat dalam proses produksi informasi. Cita-cita media komunitas untuk menempatkan masyarakat sebagai pihak yang aktif, sejalan dengan ide dasar literasi media.

Frank Biocca (1988) membedakan audience atau khalayak menjadi khalayak aktif dan pasif. Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh khalayak aktif adalah: Pertama, khalayak aktif dianggap selektif ketika mengkonsunmsi media yang akan digunakan. Kedua, utilitarianisme (utilitarianism), khalayak dianggap aktif apabila ketika mengkonsumsi suatu media selalu dilatarbelakangi kepentingan dan tujuan. Mereka mengkonsumsi media untuk memenuhi kepentingan serta kebutuhan yang mereka miliki. Karakteristik yang ketiga adalah intensionalitas (intentionality), yaitu menggunakan secara sengaja. Dalam konteks ini, khalayak harus bersikap aktif ketika mengkonsumsi suatu media tidak hanya ‘sekedar’ menonton saja. Artinya, saat menonton, mereka memiliki tujuan untuk memperoleh manfaat positif. Keempat, keikutsertaan (involvement), yaitu alasan yang selalu menyertai ketika mereka mengkonsumsi media. Kelima, khalayak aktif dianggap sebagai khalayak yang tidak mudah terpengaruh dan tidak mudah dibujuk oleh rayuan media (Littlejohn & Gray, 2001, p. 333).

Literasi Media ala Speaker Kampung
Berdasar uraian di atas, sesungguhnya aktivitas media komunitas merupakan bagian dari literasi media, bahkan pada titik tertentu sudah menjalankan tujuan tertinggi literasi media yaitu memberdayakan masyarakat tidak hanya sebagai pengguna informasi namun terlibat dalam proses pengelolaannya. Sebagai contoh, kita bisa lihat salah satu media komunitas Speaker Kampung di Ketangga, Lombok Timur, NTB. Berdiri tahun 2012, Speaker Kampung dipelopori oleh anak-anak muda yang gelisah terhadap situasi di desanya. Media arus utama dipandang tidak dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang desanya. Padahal, berbagai persoalan desa dianggap bisa lebih cepat terselesaikan jika ada informasi di tengah masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan akan informasi desanya, para anak muda itupun   membuat buletin yang disebar di wilayah Ketangga dan sekitarnya. Pada perkembangannya Speaker Kampung kini juga mengelola  blogs, website dan Speaker TV.

UTAMA 2-Penulis saat mengunjungi Speaker Kampung Januari 2017 lalu

Penulis saat mengunjungi Speaker Kampung, Januari 2017 (Foto-Speaker Kampung)

Penulis melihat bahwa geliat media komunitas ini menginspirasi berbagai aktivitas warga. Pada saat penulis mengunjungi Speaker Kampung pada  Januari 2017, mereka sedang melakukan inisiasi kegiatan BATUR, yaitu baca, tulis dan tutur di kalangan remaja. Bagi aktivis Speaker Kampung, salah satu cara untuk menangkal hoax adalah dengan memperkuat pengetahuan remaja sehingga pengetahuan tersebut menjadi filter diri dari serbuan hoax. Pengetahuan antara lain diperoleh dengan banyak membaca. Namun agar menjadi pembaca aktif, mereka diminta untuk menulis hal-hal menarik dari bacaan tersebut, lalu membagikannya (lewat tuturan) kepada teman-temannya. Penulis melihat sendiri di SMP Islam Bilakembar, siswa-siswa mempraktekkan kegiatan BATUR ini. Dan bukan kebetulan jika salah satu guru sekolah tersebut, Rasyid Ridho, adalah termasuk pelopor Speaker Kampung.

Penulis menilai bahwa proses kegiatan BATUR berpotensi untuk membangun kesadaran peserta tentang “dunianya” atau lingkungan sekitarnya, karena ada proses penyerapan informasi, refleksi atas informasi dan sharing informasi. Artinya, informasi yang mereka dapatkan tidak mentah-mentah ditelan. Berdasar obrolan dengan Eros, salah satu pendiri Speaker Kampung, agar proses kegiatan Batur memberi inspirasi bagi yang lain, maka kegiatan tersebut disebarkan melalui Speaker TV, salah satu media dari Speaker Kampung. Contoh kasus media komunitas Speaker Kampung bisa menjadi contoh betapa media komunitas bisa melakukan aksi nyata untuk membangun kesadaran masyarakat atas informasi yang benar sehingga terhindar menjadi korban hoax.

UTAMA2- Sketsasasak-salah satu upaya penggiat media komunitas Speaker Kampung untuk meningkatkan literasi media di masyarakat melalui TV Kabel

Salah satu upaya penggiat media komunitas Speaker Kampung untuk meningkatkan literasi media di masyarakat dengan mengembangkan TV kabel, Speaker TV (FOTO-Speaker Kampung)

Sebagai penutup tulisan pendek ini, penulis mengusulkan perlu ada strategi bersama di antara media komunitas untuk melawan hoax, antara lain dengan cara sebagai berikut:

1. Membangun media komunitas sebagai sumber informasi yang benar ke masyarakat agar masyarakat memiliki lembaga verifikasi informasi di tingkat akar rumput. Dalam konteks ini, media komunitas berjuang untuk menjadi sumber yang kredibel atau dapat dipercaya. Kredibilitas tersebut dapat dicapai dengan memegang integritas dalam menyampaikan informasi benar dan memiliki komitmen menjunjung kebenaran. Menjaga amanah sebagai media bagi kepentingan komunitas berarti memiliki tanggungjawab untuk membangun komunitasnya.

2. Media komunitas memiliki kewajiban untuk melakukan fact-checking sebelum menyampaikan informasi. Fact-checking atau mengecek fakta yang sesungguhnya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber yang kredibel atau layak dipercaya.

3. Membangun kerjasama dengan media arus besar sehingga dapat kompak melawan hoax.

4. Membantu masyarakat untuk melek informasi, agar masyarakat mampu membedakan antara informasi yang benar dengan hoax.

Penulis percaya akan kekuatan media komunitas untuk menciptakan komunitas yang sehat.

Mario Antonius Birowo
Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Referensi
Biocca, F. (1988). Opposing conceptions of the audience: the active and passive hemispheres of communication theory. In J. A. Anderson (Ed.), Communication Yearbook 11 (pp. 51-80). New York: Routledge.

Choi, Axelrod dan Kim (2015). Trust Me, I Am Your News Channel: Media Credibility Across News Platforms in the United States and South Korea. Electronic News 9(1):17-35 · April. DOI: 10.1177/1931243115572823

Littlejohn, S. W., & Gray, R. (2001). Theories of Human Communication (7th ed.). Belmont: Wadsworth Publishing Company

West, R., & Turner, L. H. (2009). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected with IP Blacklist CloudIP Blacklist Cloud