Maryati, Pegiat Radio Komunitas Tangguh di Timbulharjo

oleh Sumiyati

“Sugeng dalu sanak kadang Timbulharjo ……… Kembali bersama saya dalam acara campur sari”

Sapaan ini sangat akrab ditelinga pendengar Radio Komunitas (Rakom) Angkringan di Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sapaan inilah yang menjadi pembuka dalam acara musik campursari yang dibawakan oleh Maryati, salah satu dari dua perempuan yang aktif di Radio Angkringan. Maryati memang dikenal sebagai pegiat radio komunitas yang memiliki komitmen tinggi.Namun pascagempa Mei lalu suara tersebut tak lagi terdengar oleh warga Timbulharjo. Terhitung Mei lalu Maryati tidak lagi dapat menemani pendengar di kawasan Timbulharjo. Sebenarnya ia telah menyusun beberapa program yang akan dijalankannya bersama teman-teman pengelola Angkringan lainnya. Program tersebut antara lain pertanian dan musik gamelan. “Saya telah merencanakan program dan siap untuk dijalankan,” papar Maryati. Kini, program tersebut hanya menjadi kenangan bagi Maryati, karena ia tak dapat lagi aktif sebagai pengelola Radio Angkringan. Bukan tanpa alasan, ia tak aktif di radio. Maryati adalah salah satu dari sekian korban gempa di wilayah Bantul. Gempa ini telah menyebabkan Maryati mengalami kelumpuhan.

Cerita sakit lumpuh Maryati bermula karena ingin menyelamatkan neneknya. Waktu gempa terjadi, neneknya masih berada di dalam rumah, melihat situasi ini Maryati berlari memasuki rumah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Alih-alih menyelamatkan neneknya malah ia yang terkena bencana. Neneknya sendiri tak dapat diselamatkan, sedangkan Maryati mengalami kelumpuhan akibat tulang belakangan tertimpa reruntuhan.

Namun Maryati masih bersyukur karena kondisinya terus membaik. Perlahan-lahan saraf di kakinya mulai dapat digerakkan. Keberhasilan ini diperoleh dengan latihan rutin yang terus menerus dilakukan. Setiap hari ia harus melakukan terapi kaki dengan dibantu alat-alat khusus. Alat ini diperoleh dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkonsentrasi pada difabel. “Saya bersyukur karena perkembangannya bagus sehingga banyak diberikan alatalat oleh LSM,” lanjut Maryati.

Sebagai korban gempa, Maryati dibebaskan dari pungutan rumah sakit. Setiap bulan ia harus kontrol ke rumah sakit khusus tulang di Kota Solo. Sayangnya kontrol tiap bulan tak sepenuhnya bisa dijalankannya. Bila terasa sakit saja ia segera memeriksakan diri. Hal ini dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Walaupun biaya berobat gratis, namun setiap kali terapi ke Solo ia harus menyediakan uang sebear Rp 250 ribu. Uang tersebut digunakan untuk ongkos transportasi karena ia harus menyewa mobil. “Kalau sekarang kontrolnya tidak setiap bulan karena menghemat pengeluaran,” keluh Maryati.

Meskipun mengalami kelumpuhan, semangat Maryati masih terus berkobar. Ia masih berkeinginan untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai pengelola Radio Angkringan. Sesekali pula teman-teman di angkringan menghiburnya dengan mengajaknya siaran di radio. Ada juga pengelola lain yang menjemputnya, seperti ketika Radio Angkringan mengadakan peletakan batu pertama untuk pembangunan studio. “Kalau saya masih ingin terus di Angkringan tetapi semampu saya,” paparnya. Semangat Maryati tidak pernah padam untuk menghidupkan radio komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected with IP Blacklist CloudIP Blacklist Cloud