Globalisasi dan TIK

Dekade ini adalah dekade di mana semua orang di mana pun dia berada, dari para tukang sapu di jalanan sampai pada para profesor di ruang-ruang perkuliahan, tidak akan pernah melupakan untuk menyebut kata globalisasi. Kata globalisasi seolah menjadi kata sakti yang dapat kurang lebih memberikan gambaran tentang perubahan yang terjadi saat ini. Hal ini sangat berbeda sekali dengan apa yang terjadi pada dekade 1980an. Kata globalisasi pada masa ini masih asing di telinga setiap orang (Giddens, 1999: 32 – 33).

Namun tidak bisa disangkal bahwa ada sebagian pihak yang menolak kehadiran globalisasi sebagai sebuah gelombang besar yang telah menghempaskan semua orang. Pihak ini biasanya berasal dari golongan politik sayap kiri, khususnya kiri lama, yang mangatakan bahwa globalisasi kurang lebih hanya propaganda untuk melanggenggkan penetrasi kapitalisme internasional seperti yang bisa kita lihat dalam buku Globalisasi adalah Mitos karangan Paul Hirst dan Grahame Thompson.

Selain perseteruan antara penolakan dengan pengakuan terhadap kehadiran globalisasi, namun jika dilihat lebih jauh, perdebatan lebih banyak terletak pada dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi. Banyak pihak yang optimis, khususnya dari golongan politik sayap kanan yang pro pasar, bahwa globalisasi akan membawa perubahan yang baik pada kehidupan ekonomi umat manusia. Mekanisme pasar bebas yang merupakan bagian “inheren” dari globalisasi diyakini sebagai resep mujarab untuk mengobati stagnasi kehidupan ekonomi dunia (Giddens, 1999: 33 – 36).

Di sisi sebaliknya, globalisasi dalam bentuknya sebagai pasar bebas internasional dianggap telah mencelekai dunia dengan menambah jumlah orang miskin, khususnya di negara-negara dunia ketiga. Marginalisasi terhadap orang miskin dan negara miskin semakin menjadi-jadi, sedangkan penambahan kekayaan untuk segelintir orang atau negara maju mencuat begitu drastis (Hirst dan Thompson, 1996: 145 – 147).

Bukan omong kosong lagi, jika globalisasi telah membawa banyak perubahan pada kehidupan manusia di penghujung abad 20 dan di awal abad 21 ini. Seperti yang dikatakan oleh Asa Briggs dan Peter Burke (2006: 376 – 378) bahwa masa ini akan dikenang di masa depan sebagai tonggak sejarah yang paling penting dalam menentukan masa depan kehidupan umat manusia.

Masa ini seperti masa penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada tahun 1450 yang menandai masa ‘modern awal’ di Eropa. Masa ini juga disandingkan sama pentingnya seperti revolusi industri yang pernah terjadi di eropa. Tidak hanya Asa Briggs dan Peter Burke yang mengatakan demikian, tapi  Thomas L. Friedman (2006) juga. Atau seperti kata Anthony Giddens (2001) yang mengatakan masa ini adalah masa revolusioner yang menunjukan perubahan-perubahan yang sangat dinamis dan cepat.

Perubahan ini dipicu salah satunya oleh perkembangan tekonologi informasi dan komunikasi yang amat pesat. Dan jauh pada beberapa dekade lalu, Alvin dan Heidi Toffler telah sejak dini mengatakan perkembangan teknologi informasi akan mengubah kehidupan manusia pada semua sisi, ekonomi, budaya, sosial, dan politik. Spektrum perubahan yang terjadi luas ini tidak hanya terjadi di level makro saja, melainkan sangat terasa sampai pada level individu-individu. Perkembangan TIK tersebut bisa dilihat dalam kehadiran komputer (PC; personal computer) dan internet.

Munculnya teknologi internet seolah membuka pintu dunia menjadi dunia yang datar  (Friedman, 2006: 64 – 66) atau telah terjadi keterjarakan ruang dan waktu  yang semakin menyempit (Wibowo, 1999: xv) yang memungkinkan semua orang di mana saja dan kapan saja dapat melakukan interaksi satu sama lain dengan mudah. Akibat perkembangan teknologi ini juga, model perdagangan dunia memiliki wajah yang berbeda dengan abad sebelumnya, yaitu perdagangan dunia saat ini lebih didominasi oleh perputaran uang dalam bentuk digital.

Perubahan-perubahan yang terjadi telah melibas semua aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam dunia jurnalistik. Dengan kemajuan TIK yang terjadi sekarang telah berhasil mengubah drastis wajah jurnalistik lama. Saat ini banyak orang mengelu-elukan kehadiran jurnalisme warga yang merupakan dampak dari perkembangan teknologi. Dalam beberapa hal, jurnalisme warga selalu identik dengan internet karena dengan teknologi ini menyebabkan semua orang dari berbagai penjuru dunia bisa ikut berpartisipasi sebagai pewarta yang aktif.

Kalimat ‘semua orang adalah reporter’ setidaknya bisa mewakili semangat partisipasi yang dibangun oleh jurnalisme warga. Jurnalisme warga juga muncul dalam semangat keinginan mengimbangi dominasi-dominasi media mainstream dalam memonopoli informasi-informasi telah terjadi di mana-mana selama ini (Barlow, 2007: 181). Gelombang perubahan ini ternyata juga banyak terjadi di Indonesia, bahkan di komunitas-komunitas kecil.

Jurnalisme warga dalam konteks ini sebenarnya sama dengan radio komunitas karena masing-masing memiliki konsep dan prinsip yang sama. Yang membedakan hanyalah pemilihan teknologinya. Radio komunitas menggunakan teknologi radio dengan sekup lokal sedangkan jurnalisme warga menggunakan teknologi internet dengan tidak dibatasi geografis. Karena memiliki prinsip dan konsep yang sama, maka sangat mungkin jika dua teknologi ini dikonvergensikan sehingga menghasilkan media yang kuat untuk pemberdayaan masyarakat.

Sumber Tautan:

http://ketutsutawijaya.wordpress.com/2009/09/08/globalisasi-dan-tik/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected with IP Blacklist CloudIP Blacklist Cloud