Perpustakaan Komunitas dan Perkembangannya

Oleh Dessy Sekar Astina*)

“Pemerintah Kota Yogyakarta mensubsidi perpustakaan komunitas Rp 500 juta” (Suara Merdeka, 28/02/08) yang diserahkan kepada 110 perpustakaan sebagai bagian pencanangan gerakan 1000 perpustakaan di tiap RW atau kampung. Ini tentu saja menjadi angin segar bagi para penggiat dunia literasi khususnya di Kota Yogyakarta. Namun seberapa besarkah efektivitas gerakan ini di tengah wabah pendirian perpustakaan komunitas? mari kita simak gambar besarnya.

Adalah hal yang ideal apabila kemajuan peradaban bangsa dibangun oleh struktur masyarakat madani dengan basis pendidikan yang mumpuni sehingga memungkinkan masyarakat untuk mengetahui lebih jauh hak, kewajiban dan apa yang selanjutnya bisa dilakukan untuk dirinya dan bangsanya. Salah satu media menuju masyarakat madani adalah keberadaan komunitas. Perpustakaan komunitas adalah sebuah tempat dimana masyarakat berkumpul secara aktif bersama-sama melalui berbagai macam proses, yang melibatkan lingkungannya dalam mendisain, membuat perubahan dan belajar dari proses yang dijalaninya serta menciptakan kepemilikan lokal dalam berbagi jalan keluar dan tanggung jawab hingga membentuk jejaring yang kuat.

Perpustakaan komunitas atau taman bacaan masyarakat banyak yang tumbuh sesaat bagai cendawan di musim hujan. Hanyalah sekedar latah dan melihat peluang besar untuk memperoleh kucuran dana baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Biasanya setelah bantuan berakhir maka habislah kegiatan tersebut atau tetap bertahan jika para pengelolanya cukup kreatif mencari bantuan pendanaan lainnya. Ini hal yang ironis tentunya.

Perpustakaan komunitas yang dibangun oleh para pegiat dunia literasi biasanya difokuskan pada anak-anak dan remaja “para pemeluk masa depan” dan dibiayai oleh perorangan, kelompok maupun pihak-pihak lain yang peduli dalam pengembangan aktivitas literasi sehingga terkesan bersahaja. Namun dibalik kesederhanaannya penuh dengan segudang ide dan kreativitas yang informatif, mendidik dan menghibur.

Pembentukan perpustakaan komunitas bisa dimulai dimana saja setiap saat. Ruang tamu, beranda rumah, teras belakang, pos ronda, kebun kosong bahkan trotoar bisa dimanfaatkan sebagai area perpustakaan. Pengadaan koleksi bisa dimulai dari koleksi pribadi dan atau mengumpulkan dari rumah-rumah di lingkungan sekitar perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan bisa dilakukan oleh pemiliknya langsung atau dilakukan bersama-sama oleh anggota komunitas bahkan anak-anak bisa dididik untuk juga berperan menjadi pustakawan cilik sehingga menjadi kegiatan dan kepemilikan bersama. Pilihan aktivitas dan peran bisa didiskusikan dan dievaluasi bersama sehingga perpustakaan ini bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya.

Salah satu perpustakaan komunitas yang berhasil bertahan dan berkembang adalah Rumah Dunia yang digagas tahun 2002 oleh Gola Gong dan Tias Tatanka, dibangun di kebun belakang rumah. Saat ini dikomandoi oleh Firman Venayaksa telah berkembang menjadi pusat aktivitas literasi tidak hanya bagi warga Ciloang bahkan dari kota kabupaten lain seperti Serang, Pandeglang dan Merak. Rumah Dunia mengembangkan kegiatan literasi secara rutin sehingga para relawan dapat meningkatkan keahlian bahkan menelurkan banyak penulis dan jurnalis baru.

Sering kali perpustakaan jarang dikunjungi oleh masyarakat dengan berbagai alasan namun yang paling sering ditunding adalah rendahnya minat baca masyarakat. Sebelum membahas lebih lanjut tentang minat baca, mungkin kita perlu tahu apa arti minat baca. Minat baca (reading interest) adalah kecenderungan pilihan seseorang terhadap sumber bacaan. Pemilihan ini bisa dilakukan berdasarkan format bahan bacaan (buku, majalah, koran, komik, e-book, dll), jenis (fiksi atau non fiksi), subyek (biografi, sejarah, seni, sastra), genre, pengarang, usia, jenis kelamin dan sebagainya. Sedangkan budaya baca adalah sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan sehingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya. Minat baca muncul ketika seseorang telah memiliki kemampuan membaca sedangkan budaya baca terpelihara bila bahan baca terjangkau dan  jenis yang tersedia sesuai dengan minat pembacanya. Budaya baca dapat terwujud baik karena keinginan pribadi maupun bentukan lingkungan yang kondusif.

Kemampuan literasi (dalam makna sempit adalah membaca dan menulis) merupakan piranti seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup. Dimana kemampuan ini bisa diasah melalui kegiatan di perpustakaan komunitas. Bila hal ini telah disadari maka keberadaan perpustakaan akan makin berkembang, menjadi kepemilikan masyarakat setempat serta bertahan mengarungi waktu.

*) Penulis adalah pegiat dunia literasi dan Program Director Forum Indonesia Membaca.

Sumber:

http://ypr.or.id/id/riset/perpustakaan-komunitas-dan-perkembangannya.html#komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected with IP Blacklist CloudIP Blacklist Cloud