Membaca di Pohon Sakura

Oleh: Monika

Program belajar tiga bahasa di Kampung Bumen sudah hampir sampai di penghujung. Dua bulan dengan tujuh kali pertemuan sudah kami mengajar dan belajar bersama teman-teman di perpustakaan yang didirikan dua minggu sebelum program ini berjalan. Program yang berawal di akhir Juni, kini hampir berakhir di pertengahan Agustus.

Sebenarnya, kami bukan mengajari teman-teman di Bumen, tetapi, kamilah yang diajari  untuk belajar kembali dan menjawab pertanyaan yang bahkan tidak kami sadari sebelumnya. Beberapa dari kami bahkan tercengang saat ada peserta yang bertanya tentang mengapa pintu rumah gaya Jepang cara membukanya digeser, bukan didorong atau ditarik seperti rumah di Indonesia pada umumnya? Seminggu kemudian jawaban dari pertanyaan itu malah datang dari peserta lainnya. Ia mendapat penjelasan dari sebuah pertemuan dengan orang Jepang, bahwa pintu rumah gaya Jepang yang digeser memudahkan orang untuk membukanya saat gempa. Ya, teman-teman membuat kami belajar.

Waktu itu setelah pertemuan keempat, kami seluruh pengajar program belajar tiga bahasa mengadakan rapat evaluasi  dan merencanakan projek akhir program ini. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami memilih untuk membuat majalah dinding (mading). Mading ini nantinya akan ditempel di Perpustakaan Bumen sebagai koleksi.

Dua minggu berlalu dan setiap kelas bahasa harus menentukan mading yang akan dibuat; dari mulai bentuk, isi, sampai bahan yang dibutuhkan. Ketika kami memaparkan projek ini kepada teman-teman, teman-teman langsung mencetuskan ide bahwa bentuknya Pohon Sakura. Semua setuju, tapi bunga sakura yang seperti apa? Digambar atau dibuat bentuk tiga dimensinya? Sepertinya lebih menarik kalau pohon itu tiga dimensi dan artikelnya digantung di setiap rantingnya.

Sehari sebelum mading dibuat, Dedi (salah satu peserta) memilih dahan untuk dijadikan pohon sakura. Kami juga menyiapkan alat dan bahan berupa kertas krep warna merah muda untuk membuat bunga sakura, benang pancing untuk mengikat bunga. Karena dahan pohon itu harus tegak, maka kami membutuhkan pot. Akhirnya kami bersama-sama menghias kaleng dengan kertas origami serta kami isi dengan batu kerikil untuk mengganjal dahan pohon supaya tegak dan tidak goyah.

Artikel yang kami tempel di ranting pohon sakura itu memakai bahasa Indonesia, namun beberapa istilah tetap memakai bahasa Jepang. Seorang peserta ada yang menempelkan artikel tentang manga (komik) kesukaannya, Naruto. Lainnya ada yang menempel tentang berbagai mitos di Jepang, resep memasak onigiri (nasi kepal khas Jepang), dan sejarah teater tradisional Jepang.

Sekitar empat jam kami menyelesaikan mading pohon sakura itu. Setelah semua artikel tertempel di setiap ranting. Perlahan, kami memutari pohon sakura. Kami mulai membaca di pohon sakura….

Sumber:

http://ypr.or.id/id/berita/membaca-di-pohon-sakura.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected with IP Blacklist CloudIP Blacklist Cloud